Artikel
Cerpen dibalik Pelik
Tanggal : 06-10-2020 09:11, dibaca 781 kali.POTRET DIBALIK PELIK
Oleh
AI YUNITA, S.Pd.
Nyanyian riang, canda tawa, celotehan anak-anak seperti biasanya warnai suasana kampung Sindangsari, salah satu kampung di Kabupaten Cianjur, anak-anak di sana memang masih jauh dari kesan individualisme, dimana potret permainan tradisional pembentuk kekompakan masih tergambar dengan jelas, anak-anak berbaur dengan anak tetangga hanya sekadar bercerita atau berenang di aliran sungai irigasi sudah menjadi pemandangan biasa tatkala siang hari sepulang sekolah sampai sore hari , karena memang harus terjeda dengan kegiatan mengaji selepas Magrib, setelah selesai mengaji biasanya anak-anak pun menyerbu warung Ceu Anah yang berada tepat di sempadan irigasi sekunder milik Pemerintah.
Karena memang sepanjang irigasi, kiri dan kanannya dihuni warga yang memang belum punya tanah pribadi untuk mendirikan rumah diatasnya, entah memang turun temurun, keterpaksaan karena himpitan ekonomi atau mungkin memiliki anggapan kalau tinggal disana sangat mudah, entahlah. Memang prosedurnya cukup dengan meminta ijin dari Mantri Pengairan setempat, menyerahkan persyaratan, memberikan sejumlah uang selanjutnya diberi secarik kertas, maka dengan mudahnya izin keluar dan langsung bisa didirikan rumah, kedepannya cukup membayar iuran sebesar tiga puluh lima ribu rupiah setiap tahunnya.
Dulunya lahan tersebut kosong, biasanya hanya ditemui beberapa kandang ternak atau ada yang menggarapnya sebagai kebun saja, seketika berubah menjadi area padat penduduk, mulanya ditempati beberapa keluarga, lama kelamaan sanak saudara, dari mulai nenek moyang, anak, sampai cucu ketika mereka berkeluarga, langsung mendirikan rumah secara berdekatan layaknya sebuah komplek. Sampai-sampai banyak ibu rumah tangga bahkan anak gadisnya rela bekerja menjadi TKW ke luar negeri agar memiliki rumah megah di lahan irigasi itu, ya lahan yang memang tidak boleh didirikan rumah diatasnya, sudah diberitahukan memang area tersebut untuk lahan ruang terbuka hijau, namun pemberitahuan itu seolah tak digubris oleh penduduk yang tinggal disana, katanya “Pemerintah mah cuma bisa nakut-nakuti.” Atas dasar itulah peraturan tinggallah peraturan, katanya peraturan ada untuk dilanggar, entah siapa yang disalahkan dari fenomena itu apakah penduduknya atau oknum yang memudahkan perizinan agar lahan itu bisa dengan mudah ditempati.
Hari ini sepulang sekolah seperti biasanya Galang bersama teman-temannya nongkrong di warung ibunya yang biasa dipanggil Ceu Anah untuk sekadar jajan minuman teh kemasan dingin, pelepas dahaga setelah berlarian dengan temannya atau jajan makanan ringan lainnya, karena kebetulan lokasi warung itu dilalui anak-anak sekolah SD dan SMP, beda halnya dengan kelompok bapak-bapak yang nongkrong di warung itu biasanya berkumpul, minum kopi ditemani cemilan sesekali diselingi gurauan khas orang dewasa diakhiri gelak tawa. Ditengah pemandangan tersebut tiba-tiba datang dua orang berseragam khaki lengkap dengan lencana Korpri dan tanda pengenal, mereka petugas sosialisasi dari Balai PSDAP dengan ditemani Babinkamtibmas dari kepolisian setempat mendatangi warung Ceu Anah menyerahkan sehelai amplop berisi surat yang didalamnya berisi pemberitahuan bahwa dalam waktu satu minggu kedepan warga yang tinggal di sempadan irigasi itu harus segera membongkar dan mengosongkan area yang mereka tinggali selama berpuluh-puluh tahun -sebenarnya Ceu Anah bukan pertama kalinya mendapat surat itu, sebulan sebelumnya pun sudah menerimanya, mungkin ini kali keduanya- raut mukanya dipaksakan biasa saja walau hati kecilnya ada perasaan gundah melanda. Setelah bapak-bapak yang menyerahkan surat itu pergi, Galang penasaran,
“Aya naon Umi ?“ Sambil menunggu jawaban atas rasa penasarannya.
“Dapat surat lagi, kita harus segera bongkar rumah dan pergi dari sini Lang!” sahut ibunya.
Bapak-bapak yang sedang berada di warung pun penasaran “Ceu, pasti surat peringatan ya?”
Ceu Anah mengangguk lemah.
Bapak-bapak yang lain menimpali “Tenang Ceu, saya juga dapet surat, tapi tenang aja biasanya yang sudah-sudah juga cuma nakut-nakutin.”
“Masa iya Pemerintah tega ngusir kita yang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal disini, nanti kita mau tinggal dimana, betul gak bapak-bapak, kita mah gak salah, kan sudah kantongi izin tinggal disini, bayar lagi!” ujar seorang yang baru datang.
“Kalau sampai ada pengusiran kita kompak saja demo sama pa mantri!” Yang lainnya menimpali
Bapak-bapak dengan semangat menyahut “Setuju-setuju, ayo nanti habis Magrib kita datangi rumah Pak Mantri Odang, kita minta kebijaksanaan!”
Perbincangan di warung tersebut berubah topik yang tadinya gelak tawa karena sebuah celotehan, kini berubah menjadi bahasan serius, langsung mendiskusikan surat yang diterima Ceu Anah, ternyata warga lain yang tinggal di lahan itu pun sudah menerimanya secara bertahap.
Ceu Anah adalah seorang ibu yang berjuang sendiri membesarkan anaknya, karena saat Galang kelas IV SD, kira-kira berusia 10 tahun, ayah Galang menjadi salah satu korban dalam musibah longsornya galian (tambang) pasir, ayahnya tertimbun saat sedang menggali pasir, sampai menelan10 korban meninggal dunia dalam musibah itu, salah satunya ayah Galang, Kala itu Ceu Anah harus berbesar hati menerima kenyataan atas takdirnya, hanya Galang dan sepetak rumah yang mereka tempati saat ini yang ia miliki, ia harus tetap ikhlas menjalani hidup ini tanpa suaminya, karena dimatanya Allah tidak mungkin memberi cobaan di luar kemampuan makhluknya. Kini Galang sudah duduk di kelas IX SMP, memiliki cita-cita menjadi polisi kelak.
Sebelum pergi mengaji Galang berbincang dengan ibunya, “Umi kalau nanti kita diusir dari tempat ini, kita mau tinggal dimana?”
Ceu Anah tertunduk menahan sakit disertai rasa panas dimatanya yang seakan ditusuk benda tajam namun harus dipaksa agar air mata tak menetes dari kedua kelopak bola matanya.
“Mudah-mudahan semua itu tidak terjadi, warga akan mendatangi Pak Mantri Odang, minta kebijaksanaan agar pengusiran itu batal, berdoa saja sama Gusti Allah semoga kita dilindungi dan diberi petunjuk kalau semua itu harus terjadi.” Ceu Anah berusaha bijak walau sebenarnya ada kekhawatiran terselip dibenaknya, sambil berpikir dia harus kemana, harus tinggal dimana, karena mereka cuma tinggal berdua.
“Alhamdullillah, tuh sudah Azan Magrib ayo kamu pergi ke masjid, nanti telat!”
“Baik Umi!” Sambil tergesa Galang mengambil kopiah yang tergeletak di atas meja , sebelum pergi dia mencium tangan ibunya terlebih dahulu dan mengucapkan salam.
****
Selepas Magrib warga sudah berkumpul di depan warung Ceu Anah, yang kebetulan berdampingan dengan Pos Kamling. Seperti yang telah direncanakan siang tadi, mereka akan mendatangi rumah Mantri Odang.
“Assalamualaikum, Pak Odang!” Warga sampai di rumah yang mereka tuju.
“Waalaikumsalam, euleuh banyak tamu, ada keperluan apa silakan masuk!” Istri Pak Odang menyilakan warga masuk, kemudian memanggil suaminya segera, karena dia sudah memprediksi alasan warga mendatangi rumahnya.
Proses diskusi dan permintaan kebijaksanaan rupanya tidak memberikan jalan keluar atas permasalahan warga yang terbelit masalah pelik ini. Intinya memang warga yang tinggal di tempat itu harus segera membongkar rumahnya masing-masing, penjelasan dari Pak Odang Sang Mantri Pengairan katanya ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ini sudah menjadi kebijakan, bahwa sempadan irigasi sekunder sekecamatan itu harus segera dikosongkan untuk kepentingan penghijauan Daerah Aliran Sungai (DAS), sebanyak 50 rumah warga sepanjang sempadan harus segera dibongkar. Di Kampung Sindangsari sendiri terdapat 17 rumah harus segera dibongkar yang letaknya tepat disamping jalan, sementara sempadan yang sebelahnya lagi belum terkena kebijakan untuk sementara, bahkan Pak Camat pernah menyampaikan kalau bantuan untuk pembongkaran disediakan namun tidak ada biaya untuk ganti rugi, jika pada batas waktu yang telah ditentukan, warga belum juga membongkar rumahnya secara sukarela, maka dengan terpaksa akan dilakukan pembongkaran paksa menggunakan alat berat.
Warga resah, ada yang bebenah dan mempercayai peringatan itu, namun banyak yang bersikukuh tetap bertahan seperti tidak akan terjadi apa-apa, katanya kalau ada pembongkaran secara paksa, mereka akan melakukan pertahanan secara kompak.
Kabar hasil pertemuan dengan Pak Mantri Odang rupanya sudah sampai ke telinga Ceu Anah, sontak pikirannya kalut, dia hanya bisa pasrah sambil bebenah karena hal yang ditakutkan terjadi, dia belum berpikir untuk membongkar rumah yang sekaligus warungnya, karena dalam benaknya untuk membongkar saja pasti membutuhkan biaya yang tidak kecil walau katanya pihak Kecamatan bersedia memberikan tenaga bantuan untuk membongkar, tapi biasanya prosesnya panjang, dibenaknya terbersit daripada uangnya untuk biaya pembongkaran mending dia gunakan untuk menyambung hidup nantinya.
****
Di sekolah saat anak-anak lainnya bercanda, tertawa, berlarian, atau mengantri jajan di kantin seperti biasanya, beda halnya dengan Galang seolah keceriaan lenyap dari wajahnya sejak menerima surat pemberitahuan itu, walau temannya menyapa ia bersikap tak acuh, bahkan ketika ada yang mau membeli dagangannya tidak dihiraukannya pula, memang setiap hari Galang membawa makanan yang dibuat ibunya untuk dijual kepada teman-temannya saat jam istirahat, tak jarang guru-guru memborongnya, semua ini dilakukan Galang semata-mata untuk membantu ibunya membiayai hidup mereka berdua. Di kelas pun Galang tak mampu konsentrasi atas apa yang disampaikan gurunya, melihat ekspresi muridnya yang berubah drastis, Wali Kelas Galang segera menegurnya,
“Galang tumben hari ini kamu telat mengerjakan tugas, dan ibu liat kamu sering duduk menyendiri tidak seperti biasanya.”
“ Maaf Bu, saat ini saya sedang menghadapi masalah yang cukup berat.” Jawab Galang.
Di sekolah Galang memang salah satu siswa yang rajin, aktif dan kritis, kalau ada suatu hal yang kurang dipahaminya biasanya langsung dikritisi, selain sebagai Ketua Kelas ia pun seorang Ketua OSIS, maka tak heran kalau guru-guru disana mengenalnya.
“Ayo, ke ruang Ibu barangkali kamu mau menceritakan masalah yang sedang dihadapi.”
Di ruang Guru Galang menyampaikan permasalahan yang sedang dihadapinya, masalah tempat tinggal sekaligus warung tempat mata pencaharian Ibunya harus segera dibongkar , Gurunya paham betul akan apa yang dialami siswanya, salah satu keibaannya karena mengetahui Galang seorang anak yatim yang pantang menyerah. Gurunya memberikan nasihat dan penguatan mental pada Galang.
“Yakinkan hatimu bahwa Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar, maka jangan bersedih, karena pertolongan Allah akan datang dalam bentuk yang tidak disangka-sangka, ingat jangan suudzon terhadap Allah, karena ‘setelah kesulitan pasti ada kemudahan’ kamu tau kan ayat itu?”
Galang tertunduk seraya mengangguk lemah, tak mampu menahan air matanya, ia yakinkan dalam hatinya Q.S. Al Insyirah ayat 5-6, Galang meyakini firman itu ia gumamkan lagi ’Setelah kesulitan ada kemudahan’, dia harus yakin janji Allah pasti benar, sedikit-sedikit ruang hampa didadanya mulai terisi secercah cahaya yang mampu menguatkannya.
Sepulang sekolah, pikiran Galang masih tersita tentang bagaimana nasib ia dan ibunya jika harus membongkar rumah yang mereka tinggali dari dulu, dari lahir Galang sudah mengenal setiap jengkal sudut ruangan itu. Sekarang tiba-tiba harus secara paksa meninggalkannya. Rumah sekaligus warung ibunya merupakan satu-satunya warisan ayahnya sekaligus mata pencaharian ibunya selama ini untuk menopang semua biaya hidup mereka berdua, walau memang ia mendapatkan beberapa bantuan dana jaminan sosial dari Pemerintah, namun tetap saja dia tidak bisa berpangkutangan pada bantuan Pemerintah saja.
****
Sekitar pukul tiga dini hari tiba batas waktu yang sudah ditentukan, seperti yang tertera pada surat yang telah dilayangkan sebelumnya, tiba-tiba suara gaduh mulai terdengar dan mengganggu telinga. Tentunya warga panik bukan main, saat sedang dibuai mimpi, mereka harus terusik dengan suara gaduh yang mengganggu, Galang dan ibunya memang biasa terjaga pada jam itu, mereka biasa melaksanakan salat malam, setelah selesai sembahyang biasanya Ceu Anah menuju dapur menyiapkan makanan untuk Galang juga dagangannya, kemudian bersiap belanja ke Pasar setelah Salat Subuh, namun mereka penasaran dengan suara gaduh dan memaksanya keluar rumah, seketika mereka terkejut karena dikagetkan dengan konvoi alat berat di jalanan, warga mendadak panik, tampak pemandangan yang memilukan, ada yang berlarian mengangkut barang, ada yang mengumandangkan takbir, bahkan ada yang sekadar teriak dan tidak melakukan apa-apa, atau hanya sekadar menontonnya. Dini hari itu warga tidak tidur, mereka berkerumun untuk melakukan penolakan dan menghadang perjalanan konvoi monster kuning raksasa itu.
Rombongan yang terdiri dari Camat, Aparat Kepolisian, TNI, Kades, Satpol PP, Ketua RW, Ketua RT datang dengan memakai pengeras suara, mengimbau agar warga dapat bekerjasama dan mempermudah jalannya pembongkaran ini agar berjalan lancar tanpa bentrokan apalagi sampai pertumpahan darah. Kala itu warga masih belum menerima apa yang menjadi ketentuan, didadanya terselip rasa terkhianati tanpa dipedulikan oleh Pemerintahnya, karena mereka tak tau harus tinggal dimana jika harus pergi dari sana. Tampak Pak RT bernegosiasi dengan aparat dan Petugas yang berada disana, meminta kebijaksanaan agar warga diberi kesempatan untuk menyelamatkan barang-barang berharganya, sebelum nantinya lebur dengan tanah. Warga bahu membahu menyelamatkan isi rumah. Galang dan ibunya yang tak kuasa membendung air mata langsung mengamankan barang-barang mereka, tak lupa sebuah figura yang terpajang di dinding rumah diraih Galang, dipeluknya dengan erat, ia tempelkan didadanya, sambil sesekali ia pandangi wajah almarhum ayahnya yang terbingkai dalam figura itu, sambil bergumam dalam benaknya seraya berjanji “Abah, Galang akan menjaga Umi sampai kapanpun!”
Para petugas memberikan kesempatan sampai jam sembilan pagi kepada warga untuk mengamankan barang-barang berharganya masing-masing, setelah dirasa selesai semua warga diminta untuk mundur dari lokasi karena pembongkaran akan dimulai, para petugas masih terlihat sibuk menertibkan warga yang masih beres-beres di lokasi, bagi yang tidak mengindahkan instruksi, mereka digiring lalu diarahkannya untuk ke pinggir jalan. Tiba waktunya eksekusi itu beraksi, betul saja tanpa rasa ragu benda-benda raksasa itu menumbangkan satu-persatu bangunan yang masih kokoh sekalipun, bahkan ada yang masih baru selesai dibangun, tanpa rasa ampun dilindasnya menjadi puing-puing yang rata dengan tanah.
Ditengah tragedi akbar itu, sungguh miris secara langsung mereka harus menyaksikan hartanya dihancurleburkan, diiringi kumandang takbir, teriakan, tangisan, umpatan disertai kepasrahan juga ketidakberdayaan.
Galang dan Ceu Anah berpelukan erat sambil menangis sejadi-jadinya, meyaksikan warisan ayahnya dileburkan tanpa ampun dihadapan mereka, mereka tak sejengkalpun meninggalkan gundukan barang yang tersisa yang berhasil mereka selamatkan.
Seorang wanita menghampiri Galang dan Ibunya, dirangkulnya ibu dan anak itu sambil mengusap-usap anak didiknya itu,“Yang tabah, Nak!”
“Galang memeluk gurunya dengan erat, tak mampu ditahan lagi tangisnya pecah seketika.” Sambil tersedu tak mampu menahan beban yang rasanya terlalu berat untuknya.
“Ceu Anah, kebetulan sekolah punya bangunan yang biasa digunakan untuk Penjaga Sekolah (Caraka), kalau kalian bersedia boleh tinggal disana, karena saat ini tempat itu kosong. Ibu sudah mendapat izin dari Kepala Sekolah dan Komite.” Terang gurunya sambil mengusap kepala Galang dengan lembut.”
“Alhamdulillah ya Allah, terimakasih Bu kami memang masih kebingungan harus pergi kemana, kami mau Bu!” Saking senangnya tanpa berpikir panjang, Ceu Anah mengangguk menyatakan kesediaannya untuk mengiyakan tawaran Guru Galang itu.
“Satu lagi Galang, ini Ibu ada titipan dari para Guru dan teman-teman kamu di sekolah, mereka menggalang dana untuk meringankan beban kalian, semoga membantu ya?.” Guru Galang memberikan amplop berisi uang ke tangan Ceu Anah.
“Alhamdulillah, Jazakumullah khairan katsiran, terima kasih banyak Bu, tolong sampaikan terima kasih kami untuk para Guru dan teman-teman Galang, insyaallah sangat bermanfaat dan akan kami manfaatkan sebaik mungkin.” Ceu anah tak kuasa menahan haru, sambil menempelkan amplop itu di atas kepalanya, sebagai tanda syukurnya kepada Allah yang telah mengirimkan pertolongan yang tidak disangka-sangka.
****
Pemandangan di sempadan tanah irigasi itu kini tak seperti dulu, hanya serpihan kayu , bongkahan batu bata dan puing-puing kenangan penghuni tempat itu, tak terlukis lagi keceriaan anak-anak atau suara gelak tawa Bapak-bapak sambil nongkrong di Warung Ceu Anah lagi, hanya terlukis potret kepedihan disertai luka mendalam, warga yang rumahnya terpaksa harus dibogkar paksa, mereka harus ikhtiar mencari tempat untuk berteduh dengan berbagai cara, ada yang harus mengontrak, tinggal di rumah saudara, tinggal di gudang rumah tetangga bahkan ada yang masih tinggal sementara di Mushala, sembari menunggu sampai mendapatkan tempat berteduh untuk mereka tinggali dalam jangka waktu yang panjang.
Kini Galang dan Ceu Anah tinggal pada sebuah bangunan khusus untuk Caraka di tempat Galang bersekolah, Ceu Anah diperbolehkan berjualan di kantin sekolah. Sesekali Galang turut membantu tugas Caraka disana seperti menyapu atau sekadar melaksanakan tugas ringan lainnya, walau tidak ada tuntutan pekerjaan untuknya, dalam pandangannya itulah salah satu cara bentuk terima kasihnya karena Ia dan ibunya diperbolehkan tinggal sekaligus tempat untuk berjualan disana.
***Selesai***
Pengirim : AI YUNITA
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- Pandemi Covis-19 Melanda Dunia
- Pembelajaran Tatap Muka Terbatas
- Puisi Siswa
- Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19
- LIMA TIGA MENUJU ADIWIYATA PROPINSI
Komentar :
Kembali ke Atas

Total Hits
Hari ini
Member Online